Klarifikasi Panitia Pemilihan Calon Kepala Desa (Cakades) Desa Leuntolu Terkait Dugaan kecurangan Oleh Pihak Panitia.

Leuntolu.desa.id-Sebelumnya panitia pemilihan Calon Kepala Desa (CAKADES) Desa Leuntolu, kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan atas dugaan melakukan kecurangan dalam pemilihan Cakades desa Leuntolu ke DPRD Belu pada kamis/7/10/2019.

Dugaan kecurangan tersebut di laporkan oleh Cakades nomor urut 2 Andreas Seran Luan dan Quido Toto calon nomor urut 5 disertai 5 poin tuntutan kecurangan yang dilakukan panitia yakni:

1. Kertas suara yang mempunyai dua lubang simetris/ coblos tembus dianggap rusak atau tidak sah oleh panitia pemungutan suara. Pilkades di desa Leuntolu itu, pihaknya merasa dirugikan dengan banyaknya surat suara yang dianggap tidak sah karena fenomena coblos tembus.
Banyak pemilih yang tidak sadar saat mencoblos karena kertas masih terlipat sehingga tembus sampai cover. Tindakan panitia itu mengakibatkan dua cakades itu kalah dalam kontestasi pilkades pada 16 Oktober 2019. Hal ini berbanding terbalik dengan pilkades serentak di desa Rafae, kecamatan Raimanuk. Di mana panitia pemilihan di desa Rafae menyatakan bahwa surat suara yang dicoblos tembus karena pemilih tidak sadar saat mencoblos itu dinyatakan sah oleh panitia pemungutan suara di desa Rafae.

2. Ada perbedaan Daftar Pemilih Tetap di TPS 01 yang diberikan panitia sebelum pemilihan berlangsung (397 DPT) dengan DPT yang diberikan panitia saat proses pemilihan berlangsung (412 DPT).

3. Ada 1 orang pemilih pada DPT no. 159 dari TPS 03 tidak ada nama tetapi disuruh oleh panitia Elfin D. Zai untuk menggantikan nama orang yang tidak hadir itu dengan orang lain atas nama Wilhelmina Seuk pada saat proses pemilihan suara.

4. Ada pemilih di bawah umur 16 tahun, no. 314 atas nama Anjelia Da Costa (lahir, 05 September 2003) yang diberikan hak oleh panitia untuk menggunakan hak pilihnya di TPS 01.

5. Ada dua orang pemilih dari TPS 01 atas nama Kalis dan Iboni yang namanya tidak terdaftar dalam DPT tetapi diizinkan oleh panitia untuk mencoblos menggunakan KTP, sementara banyak pemilih di TPS 02 sampai TPS 04 yang namanya tidak terdaftar dalam DPT yang ingin mencoblos menggunakan KTP tetapi tidak diizinkan oleh panitia.

Menanggapi laporan kecurangan tersebut, pihak panitia tingkat desapun melakukan klarifikasi terkait permasalahan tersebut, menurut ketua panitia Vicenti De Deus mengatakan pihak panitia siap dipanggil untuk melakukan klarifikasi di tingkat kabupaten.

“Bagi kita selaku panitia siap menerima pengaduan dari pihak manapun terkait pemilihan Cakades ini, terkait 5 poin tuntuntan oleh pihak yang melaporkan, saya rasa bisa di pertanggungjawabkan nanti, untuk poin nomor 1 nanti lebih rincinya akan di jelaskan oleh panitia kabupaten dalam hal ini dinas PMD, Panitia Kabupaten dan DPRD. Kemudian poin nomor 2 sampai nomor 5 bisa dipertanggungjawabkan pihak panitia, intinya bahwa kita siap melakukan klarifikasi apa bila dipanggil oleh pihak kabupaten untuk klarifikasi. jelasnya pada kamis/24/10/2019

Ia pun menambahkan jika pihaknya sangat menghormati pengaduan-pengaduan tersebut,menurutnya, ini adalah demokrasi.

“Kami juga sudah menyiapkan beberapa bukti untuk menjawab poin-poin tuntutan dari pihak pelapor, dan kami sangat menghormati pangaduan mereka sebagai bagian dari demokrasi. Jelasnya.

Pewarta : Andre Barros
Editor : Admin

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*